Minggu, 23 September 2012

Pengaruh Kayu Apu sebagai media tanam terhadap pertumbuhan tanaman sawi

 Penulisnya adalah tiga siswa dari jurusan ATPH di SMK Negeri 1 Purwosari
Ditiya Catur Paramita XII ATPH 1
Heru Agus Trio Wibowo XII ATPH 2
Qurrota A'yun M. XI ATPH 2 (saya)

PENGARUH KAYU APU (Pistia stratiotes L.) SEBAGAI MEDIA TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN SAWI


BAB I
PENDAHULUAN


1.1              Latar Belakang
Gulma merupakan tumbuhan yang merugikan dan tumbuh pada tempat yang tidak dikehendaki. Karena sifat merugikan tersebut, maka di mana pun gulma tumbuh selalu dicabut, disiang bahkan dibakar. Sebenarnya bila dikelola dengan benar dan optimal, gulma akan memberikan manfaat dan meningkatkan produktivitas lahan.
Pada budidaya tanaman padi, sering ditemukan adanya gulma yang mengganggu aktivitas budidaya tanaman. Salah satu gulma yang sering dijumpai adalah kayu apu.
Kayu apu merupakan jenis gulma air (aquatic weeds) yang tumbuh mengapung (floating weeds) dan banyak ditemukan di area persawahan, baik yang masih tergenang maupun sawah yang padinya telah dipanen.
Dampak negatif tumbuhnya kayu apu adalah terganggunya pertumbuhan tanaman budidaya dengan gulma ini. Selain itu, kayu apu juga membuat pupuk yang diberikan oleh petani tidak dapat sampai ke tanah karena terhalang oleh daun kayu apu yang cukup lebar. Akibatnya, pupuk yang diberikan oleh petani tidak dapat terserap secara efektif oleh tanaman budidaya.
Kayu apu ini tidak memiliki nilai ekonomi tinggi, kecuali sebagai sumber humus (karena tumbuhnya pesat dan orang mengumpulkannya untuk dijadikan pupuk), kadang-kadang dipakai sebagai bagian dari dekorasi dalam ruang atau sebagai tanaman hias di kolam atau akuarium.
Dari beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa kayu apu mengandung  bahan organik yang cukup tinggi sehingga bisa dimanfaatkan sebagai alternatif pupuk organik.

1.2              1.2       Tujuan
Tujuan dari percobaan ini adalah agar dapat mengetahui pengaruh kayu apu terhadap pertumbuhan tanaman sawi dan perlakuan yang sesuai untuk mengoptimalkan pertumbuhan sawi.

1.3              1.3      Ruang Lingkup
Ruang lingkup penelitian yang dilakukan hanya dibatasi untuk mengetahui pengaruh pemberian kayu apu (Pistia stratiotes L.) terhadap pertumbuhan tanaman sawi

1.4              1.4       Manfaat
Dapat memanfaatkan kayu apu yang merupakan gulma pada tanaman padi sebagai penyuplai unsur hara pada tanaman sawi.

1.5              1.5      Rumusan Masalah
a.    Apakah kayu apu dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman sawi?
b.    Bagaimana pertumbuhan sawi yang diberi kayu apu dengan perbandingan yang berbeda?
c.    Perlakuan manakah yang memiliki pengaruh paling baik untuk pertanaman sawi?

 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1              Tanaman sawi
Sawi dapat ditanam di dataran tinggi maupun di dataran rendah. Akan tetapi, umumnya sawi diusahakan di dataran rendah, yaitu di pekarangan, di ladang, di polybag atau di sawah, jarang diusahakan di daerah pegunungan. Sawi termasuk tanaman sayuran yang tahan hujan. Sehingga ia dapat ditanam di sepanjang tahun, asalkan pada saat musim kemarau disediakan air yang cukup untuk penyiraman. Keadaan tanah yang dikehendaki adalah tanah gembur, banyak mengandung humus.
Adapun cara budidaya sawi dalam polybag adalah:
Persemaian sawi
1        Siapkan polibag dengan ukuran diameter 15 cm atau kurang
2        Isi polibag dengan tanah humus atau sub soil. akan lebih baik jika menggunakan kompos
3        Semaikan biji sawi di dalam satu polibag
benih sawi yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. biji sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapangan
4        Lakukan penyiraman setiap hari yaitu pagi dan sore hari.
bibit sawi dapat ditanam setelah berumur 3 - 4 minggu setelah penyemaian biji sawi.
Penanaman sawi
1        Siapkan polibag dengan ukuran diameter 15 cm atau kurang
2        Isi polibag dengan tanah humus atau sub soil. Akan lebih baik jika menggunakan kompos
3        Cabut bibit sawi dari persemaian, hari - hati karena akar tidak boleh putus.
4        Gali Lobang dengan Jari kemudian tanam bibit sawi. Dalam satu polibag dapat ditanam 3-5 bibit sawi
5        Lakukan penyiraman setiap hari yaitu pagi dan sore hari
6        Setiap minggu berikan kompos sebagai pupuk organik
Panen sawi
Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama.
Pupuk urea sebagai sumber hara N dapat memperbaiki pertumbuhan vegetatif tanaman, dimana tanaman yang tumbuh pada tanah yang cukup N, berwarna lebih hijau (Hardjowigeno, 1987).

2.2              Morfologi Kayu Apu (Pistia stratiotes L.)
Kingdom         : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom    : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Divisi               : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas               : Filicinae                            
Ordo                : Hydropterides
Famili              : Salviniaceae
Genus              : Pistia
Spesies             : Pistia stratiotes L.
            Kayu apu (Pistia stratiotes) merupakan familia Salviniaceae dari genus Pistia. Kayu apu memiliki dua tipe daun yang sangat berbeda. Daun yang tumbuh di permukaan air berbentuk cuping agak melingkar, berklorofil sehingga berwarna hijau, dan permukaannya ditutupi rambut berwarna putih agak transparan. Rambut-rambut ini mencegah daun menjadi basah dan juga membantu kayu apu mengapung. Daun tipe kedua tumbuh di dalam air berbentuk sangat mirip akar, tidak berklorofil, dan berfungsi menangkap hara dari air seperti akar. Orang awam menganggap ini adalah akar kayu apu. Kayu apu sendiri akarnya (dalam pengertian anatomi) tereduksi. Kayu apu tidak menghasilkan bunga karena termasuk golongan paku-pakuan.
            Sebagaimana paku air (misalnya semanggi air dan azolla) lainnya, kayu apu itu juga bersifat heterospor, memiliki dua tipe spora, yaitu makrospora yang akan tumbuh menjadi protalus betina dan mikrospora yang akan tumbuh menjadi protalus jantan.
Kayu apu hanya membutuhkan lingkungan yang basah dan hangat, dan tidak memerlukan persyaratan khusus dalam pertumbuhannya (Murray et al.,2001)

2.3              2.3       Kandungan Unsur Hara dalam Kayu Apu (Pistia stratiotes L.)
Majid (1986) menyatakan bahwa kayu apu dapat berperan sebagai sumber pupuk organik. Penelitian Irfan dan Shardendu (2009) menunjukkan bahwa kayu apu dapat digunakan sebagai penyerap unsur nitrogen di alam, seperti terlihat pada kandungan nitrogen kayu apu. Arisandi (2006) menyatakan bahwa kandungan C organik dan N total yang cukup tinggi pada kayu apu, yaitu 40.5% dan 1.8% diharapkan mampu menyumbang unsur hara ke dalam tanah sehingga dapat mengurangi penggunaan pupuk anorganik.
Hasil analisis bahan organik yang dilakukan di laboratorium Kimia Tanah Universitas Brawijaya menunjukkan bahwa kandungan bahan organik kompos kayu apu adalah 22.8%, sedangkan kandungan bahan organik kayu apu segar adalah 19.6%. Hasil ini menunjukkan bahwa kompos kayu apu dan kayu apu segar dapat dimanfaatkan sebagai sumber bahan organik di dalam tanah.
Hasil penelitian Farichatul Laili menunjukkan bahwa pemberian kompos kayu apu 12 ton ha-1+ dosis pupuk nitrogen 120 kg ha-1 memberikan hasil yang tinggi pada jumlah anakan, jumlah daun dan bobot kering.

2.4              2.4     Pemanfaatan Kayu Apu
§   Sebagai sumber humus atau pupuk organik
§   Pemanfaatan kayu apu untuk menurunkan kadar Cr pada Pengolahan limbah Industri Penyamakan Kulit.
§   Pemanfaatan kayu apu untuk menurunkan kadar pencemaran air limbah pabrik tahu.
§   Pemanfaatan kayu apu untuk obat demam, obat batuk rejan, dan pelancar air seni.
§   Pemanfaatan kayu apu untuk bioakumulator tembaga.
§   Sebagai bagian dari dekorasi dalam ruang atau sebagai tanaman hias di kolam atau akuarium.


BAB III
METODE PENELITIAN

3.1              Waktu dan Tempat
Kegiatan dilaksanakan di SMK Negeri 1 Purwosari mulai bulan Juli – September 2012

3.2              Alat dan Bahan
Alat:
1.        Parang
2.        Tray
3.         Ember
4.         Timbangan
5.         Penggaris
Bahan:
1.        Kayu apu (Pistia stratiotes L.)
2.        Polybag
3.        EM-4
4.        Benih sawi





3.3              Cara Kerja :
1          Perlakuan awal
a)    Pistia/kayu apu dikeringkan di bawah sinar matahari selama ± 1 minggu
b)   Setelah kering kayu apu dicacah sampai halus
2          Pembuatan media
a)    Kayu apu yang sudah dicacah sampai halus di beri EM-4, dengan perbandingan EM-4 dan kayu apu adalah 1 : 1.
b)   Dicampur hingga lembab  menjadi lembab
c)    Diletakkan dalam tray lalu ditutup dengan mulsa selama 1 minggu.
d)   Setelah itu media dimasukkan ke dalam polybag sesuai dengan perlakuan yang dibuat  yaitu kontrol(tanpa perlakuan), 25%, 50%, 75%,, masing-masing perlakuan terdapat 3 kali ulangan.
e)    Perlakuan yang dibuat adalah:
1.      Kontrol           : tanpa diberi kompos kayu apu
2.      25%                : 75 gram kompos kayu apu dan 225 gram tanah
3.      50%                : 150 gram kompos kayu apu dan 150 gram tanah
4.      75%                : 225 gram kompos kayu apu dan 75 gram tanah
3          Penanaman
a)    Semai benih sawi dengan media pasir dengan kompos 1 : 1
b)   Setelah persemaian berumur 1 minggu, sawi di transplanting ke polybag yang berisi media dengan masing-masing perlakuan berisi 3 bibit sawi.

3.4              Rancangan Percobaan
a)      Perlakuan terdiri dari 4 macam yaitu : Kontrol, 25%, 50%, dan 75%
b)      Setiap perlakuan terdiri dari 3 ulangan, dan setiap ulangan diisi 3 bibit sawi.


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1              Hasil Pengamatan
Data hasil pengamatan dari percobaan dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 1. Jumlah tanaman dalam tiap polybag saat transplanting
Perlakuan
               
               Ulangan

I

II

III
Kontrol
3
3
3
25 %
3
3
3
50 %
3
3
3
75 %
3
3
3


Tabel 2. Pengamatan jumlah tanaman dalam setiap polybag pada saat panen
Perlakuan
               
               Ulangan

I

II

III
Kontrol
3
3
2
25 %
3
2
2
50 %
3
3
3
75 %
2
3
2





Tabel 3. Pengamatan  jumlah daun dalam setiap tanaman pada saat panen
Perlakuan

              Ulangan

I

II

III
Kontrol
22
20
13
25 %
15
10
10
50 %
20
22
23
75 %
11
17
13

 Tabel 4. Pengamatan rata-rata tinggi tanaman pada setiap polybag


Perlakuan

            Ulangan

I

II

III
Kontrol
20 cm
23 cm
16 cm
25 %
12 cm
21 cm
15 cm
50 %
14 cm
29 cm
28 cm
75 %
9 cm
11 cm
15 cm
Ket. pembulatan

4.2              Pembahasan
Jumlah tanaman pada saat transplanting pada setiap polybag sama, yaitu 3 tanaman.
Pada tabel kedua, hasil pengamatan jumlah tanaman setiap polybag dan setiap perlakuan berbeda. Pada perlakuan kontrol jumlah tanaman dalam ulangan pertama sebanyak 3 tanaman, ulangan kedua adalah 3 tanaman dan ulangan ketiga sebanyak 2 tanaman. Pada perlakuan 25% jumlah tanaman dalam ulangan pertama adalah 3, ulangan kedua sebanyak 2 tanaman dan ulangan ketiga tanaman berjumlah 2. Pada perlakuan 50% jumlah tanaman dalam setiap ulangan sebanyak 3 tanaman. Pada perlakuan 75% ulangan pertama terdapat 2 tanaman, pada ulangan kedua sebanyak 3 tanaman dan terakhir pada ulangan ketiga terdapat 2 tanaman. Dapat disimpulkan bahwa perlakuan 50% menunjukkan hasil yang paling baik, yaitu 3 tanaman di setiap polybagnya.

Pada tabel ketiga, pengamatan  jumlah daun dalam setiap tanaman pada saat panen menunjukkan angka yang berbeda. Pada perlakuan kontrol jumlah daun pada ulangan pertama sebanyak 22 daun, ulangan kedua 20 daun dan ulangan ketiga 13 daun. Pada perlakuan 25% ulangan pertama sebanyak 15 daun, ulangan kedua 10 daun dan ulangan ketiga adalah 10 daun. Pada perlakuan 50% ulangan pertama sebanyak 20 daun, ulangan kedua sebanyak 22 daun dan ulangan ketiga sebanyak 23 daun. Pada perlakuan 75% ulangan pertama adalah 11 daun, ulangan kedua sebanyak 17 daun dan terakhir ulangan ketiga sebanyak13 daun. Dapat dilihat bahwa jumlah total daun tiap ulangan yang paling baik ditunjukkan pada perlakuan 50%.

Pada tabel keempat pengamatan rata-rata tinggi tanaman tiap polybag dan tiap perlakuan yaitu perlakuan kontrol pada ulangan pertama rata-rata tinggi tanaman menunjukkan angka 20 cm, perlakuan kedua 23 cm dan perlakuan ketiga adalah 16 cm. Sedangkan pada perlakuan 25% ulangan pertama yaitu 12 cm, ulangan kedua setinggi 21 cm dan ulangan ketiga adalah 15 cm. Pada perlakuan 50% ulangan pertama menunjukkan angka 14 cm, ulangan kedua adalah 29 cm dan ulangan ketiga menunjukkan angka 28 cm. Pada perlakuan 75% ulangan pertama adalah 9 cm, ulangan kedua setinggi 11 cm dan ulangan ketiga yaitu 15 cm. Dapat dilihat bahwa rata-rata tinggi tanaman tiap polybag yang paling baik adalah perlakuan 50%.

Dari tabel pengamatan yang telah dibuat dapat disimpulkan bahwa perlakuan 50% adalah perlakuan yang paling baik untuk digunakan sebagai media tanam karena perbandingan antara kayu apu dengan tanah seimbang, sehingga pertumbuhannya optimal baik dari segi jumlah tanaman yang hidup, jumlah daun dan tinggi tanaman.


BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
a.       Dalam percobaan yang telah dilakukan ternyata kayu apu dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman sawi.
b.      Jumlah daun dalam setiap polybag yang paling banyak terdapat pada perlakuan 50%
c.       Rata-rata tinggi tanaman yang paling baik terdapat pada perlakuan 50%
d.      Perlakuan kayu apu 50% memberikan hasil terbaik dibandingkan perlakuan 25% dan 75% maupun kontrol.

5.2 Saran
Untuk penggunaan kayu apu sebagai media tanam dalam skala luas masih diperlukan penelitian lebih lanjut terutama untuk perbandingan kayu apu dengan media tanam lain.


DAFTAR PUSTAKA

Abadi,____. PENYISIHAN 134CS PADA PERAIRAN TERCEMAR MENGGUNAKAN TANAMAN KIAPU (Pistia stratiotes L) SECARA RHIZOFILTRASI. Jurnal. ITB. Bandung
Damayanti, 2004, Analisis Resiko Lingkungan dari Pengolahan Pabrik Tahu dengan Kayuapu. Jurnal Purifikasi Vol.4. http://www.scribd.com/doc/21082006/air-limbah-tahu
Estiarana, 2001. Tanaman Air Apu-apu Water Lettuce Pistia stratiotes L. http://estiana.blogspot.com/2010/12/water-lettuce-pistia-stratiotes-apu.html.
Fonkou, 2002. Potentials of water lettuce (Pistia stratiotes) in domestic sewage treatment with macrophytic lagoon systems in Cameroon. Proceedings of International Symposium on Environmental Pollution Control and Waste Management 7-10 January 2002 , Tunis (EPCOWM’2002,p.709-714.
Hanum, 2008. Teknik Budidaya Tanaman Jilid 1. Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan. Jakarta.
Lina, 2009. Save Out Wet Land. Blog. http://lenzzone.blogspot.com/2009_03_01_archieve.html







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar